ArtikelPembinaan & Penyuluhan

Adopsi dan Inovasi ditingkat Petani

Oleh : Aprilia Triasni. AR (Penyuluh Pertanian di Kab. Soppeng)

Pada dasarnya sebagai individu, hampir semua petani tidak mempunyai kemampuan untuk mengubah keadaan usahataninya tanpa adanya bimbingan dan pendampingan dari pihak yang memiliki kompeten di bidangnya, serta harus didukung dengan penerapan teknologi yang sedang berkembang saat sekarang. Oleh karena itu, keberadaan bantuan dari luar sangat diperlukan, baik secara langsung yang dapat berupa bimbingan dan pembinaan usaha maupun tidak langsung secara intensif yang dapat mendorong petani menerima hal–hal baru dalam mengandalkan tindakan perubahan. Dalam hal ini kegiatan penyuluhan sangat dibutuhkan untuk tercapainya perubahan–perubahan perilaku mesyarakat  khususnya petani demi terwujudnya perbaikan mutu hidup yang mencakup banyak aspek baik ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik maupun pertahanan keamanan. Karena itu, pesan–pesan pembangunan yang disuluhkan haruslah mampu mendorong atau mengakibatkan terjadinya perubahan–perubahan yang memiliki sifat “pembaharuan” yang biasa disebut “inovativensess”.

Proses kebutuhan inovasi merupakan suatu proses mental sejak seseorang mulai pertama kali mengetahui adanya suatu inovasi, membentuk sikap terhadap inovasi tersebut, mengambil keputusan untuk mengadopsi atau menolak mengimplementasikan ide baru dan membuat konfirmasi atas keputusan tersebut. Proses ini terdiri atas rangkaian pilihan dan tindakan individu dari waktu ke waktu atau suatu sistem evaluasi ide baru dan memutuskan mempraktekkan inovasi atau menolaknya. Perilaku dalam memutuskan tentang suatu alternatif baru ini terkait dengan ide yang telah ada sebelumnya. Sifat suatu inovasi dan ketidakpastian berhubungan dengan sifat tersebut yang merupakan aspek khusus dari pengambilan keputusan inovasi (Rogers, 2003).

Pengertian Adopsi Inovasi

Pengertian adopsi dan adaptasi terkadang membuat kita keliru, keduanya terkadang diartikan sebagai “penyesuaian”. Di dalam proses adaptasi, dapat juga berlangsung proses penyesuaian tetapi adaptasi itu sendiri lebih merupakan proses yang berlangsung secara alami untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. Sedangkan adopsi benar–benar merupakan proses penerimaan sesuatu yang baru ditawarkan dan diupayakan oleh pihak lain (penyuluh).

Adopsi dalam proses penyuluhan pertanian pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku, baik berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective) maupun keterampilan (psycho–motoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh pada masayarakat sasaran (petani). Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar “tahu” tetapi sampai benar–benar dapat melaksanakan atau menerapkan dengan benar serta menghayatinya dalam kehidupan dan usahataninya. Penerimaan inovasi tersebut biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain sebagai cerminan dan adanya perubahan sikap, pengetahuan dan atau keterampilannya (Turindra, 2009).

Havelock 1973 dalam Valera, et, al (1987) mengatakan bahwa inovasi merupakan segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya. Berkaitan dengan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa boleh jadi seseorang menganggap baru, tetapi belum tentu ide yang sama itu dianggap baru oleh orang lain. Sedangkan Mardikanto (1993) mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek–praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu/warga masyarakat yang bersangkutan.

Dalam inovasi terdapat tiga unsur yang berkembang di dalamnya yaitu : (1) ide atau gagasan; (2) metode atau praktek; (3) produk (barang atau jasa). Untuk dikatakan sebuah inovasi maka ketiga unsur tersebut harus mengandung sifat “baru”. Sifat baru tersebut tidak mesti dari hasil penelitian mutakhir. Namun pengertian “baru” disini dinilai dari sudut pandang penilaian individu yang menggunakannya yaitu masyarakat / petani sebagai “adopter”. Dan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi percepatan adopsi adalah sifat inovasi itu sendiri.

Adopsi inovasi mengandung pengertian yang kompleks dan dinamis. Hal ini disebabkan karena proses adopsi inovasi sebenarnya adalah menyangkut proses pengambilan keputusan, dimana dalam proses ini banyak faktor yang mempengaruhinya. Berarti dalam hal ini adalah proses pengambilan keputusan untuk menerima ide–ide baru. Karena dalam proses adopsi inovasi diperlukan informasi yang cukup, maka calon adopter (dalam hal ini petani) biasanya senantiasa mencari informasi dari sumber yang relevan.

Ada tiga hal yang diperlukan bagi calon adopter dalam kaitannya dalam proses adopsi inovasi, yaitu (Turindra, 2009) :

  1. Adanya pihak yang telah melaksanakan inovasi dan berhasil dengan sukses. Pihak yang tergolong kriteria ini dimaksudkan sebagai sumber informasi yang relevan
  2. Adanya suatu proses adopsi inovasi yang berjalan secara sistematis, sehingga dapat diikuti dengan mudah oleh calon adopter.
  3. Adanya hasil adopsi inovasi yang sukses dalam artian telah memberikan keuntungan, sehingga dengan demikian informasi seperti ini akan memberikan dorongan kepada calon adopter untuk melaksanakan adopsi inovasi.

Tahapan Adopsi dan Inovasi

Ada lima tahapan dalam proses adopsi inovasi, yaitu :

  1. Tahap Kesadaran, tahap dimana petani baru belajar tentang sesuatu yang baru. Petani masih menerima informasi mengenai suatu teknologi baru yang masih bersifat umum.
  2. Tahapan Menaruh Minat, tahap dimana petani mulai mengembangkan informasi yang diperoleh. Ia mulai mempelajari secara lebih terperinci tentang ide baru tersebut, bahkan tidak puas kalau hanya mengetahui saja tetapi ingin berbuat yang lebih dari itu. Petani mulai mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, apakah itu dari media cetak ataupun media elektronik.
  3. Tahapan Evaluasi, tahap dimana petani mulai menentukan apakah ide baru tersebut akan diadopsi atau tidak, setelah mengumpulkan berbagi informasi dari berbagai sumber bahkan telah melihat hasil teknologi tersebut di tempat lain. Sehingga pada tahap ini mulai melakukan suatu penilaian atau evaluasi dengan maksud untuk mempertimbangkan lebih lanjut apakah minat tersebut perlu diteruskan atau tidak
  4. Tahapan Mencoba, pada tahapan ini, petani mulai menuangkan buah pikirannya tentang minat dan evaluasi tersebut dalam suatu kenyataan yang sebenarnya, yang dituangkan dalam bentuk praktek yang dapat dilakukan secara dilakukan sendiri atau berkelompok dan dimana melakukan percobaan Disini petani harus belajar mengenai teknik maupun metode yang akan digunakan.
  5. Tahapan Adopsi, pada tahap ini, petani atau individu telah memutuskan bahwa ide baru yang dipelajari adalah cukup baik untuk diterapkan di lahannya dalam skala yang agak luas. Tahapan adopsi ini barangkali yang paling menentukan dalam proses kelanjutan pengambilan keputusan lebih lanjut.

Sifat Adopsi Inovasi

Sifat adopsi inovasi ini akan menentukan kecepatan adopsi inovasi. Berikut adalah sifat – sifat adopsi inovasi, yaitu :

  1. Inovasi harus memberikan keuntungan bagi adopternya dan dirasakan sebagai kebutuhan adopter. Sejauh mana inovasi baru itu akan memberikan keuntungan daripada teknologi lama yang digantikannya. Bila memang benar bahwa teknologi baru akan memberikan keuntungan yang relatif lebih besar dari nilai yang digasilkan oleh teknologi lama, maka kecepatan proses adopsi inovasi berjalan lebih cepat.
  2. Kompabilitas/keselarasan. Seringkali teknologi baru yang menggantikan teknologi lama saling mendukung, namun banyak pula dijumpai penggantian teknologi lama dengan teknologi baru yang merupakan kelanjutan saja. Bila teknologi baru itu merupakan kelanjutan dari teknologi yang lama yang telah dilaksanakan petani, maka kecepatan proses adopsi inovasi akan berjalan relatif lebih cepat. Hal ini disebabkan karena pengetahuan petani yang sudah terbiasa untuk menerapkan teknologi lama yang tidak banyak berbeda dengan teknologi baru tersebut. Kompatibilitas juga mempunyai keterkaitan dengan sosial budaya, kepercayaan dan gagasan yang dikenalkan sebelumnya dan keperluan yang dirasakan oleh adopternya.
  3. Kompleksitas. Artinya, makin mudah teknologi baru tersebut dapat dipraktekkan, maka cepat pula proses adopsi yang dilakukan petani. Oleh karena itu, agar proses adopsi inovasi dapat berjalan lebih cepat maka penyajian inovasi baru tersebut harus lebih sederhana.
  4. Triabilitas. Dapat diartikan sebagai kemudahan, yaitu makin mudah teknologi baru tersebut dilakukan maka relatif makin cepat proses adopsi inovasi dilakukan petani atau adopter semakin banyak mengikuti.
  5. Observabilitas. Observabilitas disini maksudnya adalah dapat diamatinya suatu inovasi. Seringkali ditemukan bahwa banyak kalangan petani yang cukup sulit untuk diajak mengerti mengadopsi inovasi dari teknologi baru, walaupun teknologi baru tersebut memberikan keuntungan kerena telah dicoba di tempat lain.

Berikut adalah beberapa ciri yang umum yang banyak ditemui dalam kelompok masyarakat adopter, yaitu  (Rogers, 1971) :

  1. Inovator (innovators). Anggota kelompok tani ini biasanya mempunyai lahan usaha tani yang relatif luas dan pendapatannya tinggi dibandingkan pendapatan rata–rata masyarakat sekitar dimana mereka bertempat tinggal. Mereka mempunyai resiko kapital, juga berani menanggung resiko yang tinggi. Secara umum meraka yang mempunyai ciri seperti ini adalah mereka yang tergolong dalam golongan perintis pemula yang melakukan adopsi inovasi.
  2. Pelopor (Early Adopter). Kelompok ini biasanya mempunyai usahatani yang luas dan pendapatan yang relatif tinggi dibandingkan dengan angka rata–rata petani yang tinggal di daerah sekitarnya. Secara umum mereka menjadi orang – orang yang pertama untuk mencoba ide baru dan sekaligus bersedia mempraktekkannya. Kelompok ini termasuk kelompok yang relatif berpandangan maju dan mempunyai wawasan yang luas. Artinya mereka tidak selalu skeptis terhadap perubahan – perubahan yang berada di sekitarnya dan bahkan selalu berpandangan positif terhadap hal baru.
  3. Pengikut dini (Late Adopters). Kelompok ini biasanya memiliki lahan pertanian yang relatif sempit dan sering dijumpai bahwa golongan petani ini adalah petani yang subsistem. Mereka cenderung sudah berumur tua atau mereka yang menjelang usia senja. Bila saja mereka cenderung untuk melakukan adopsi inovasi yang lambat, maka partisipasinya dalam kelompok formal biasanya sangat rendah.
  4. Pengikut akhir (Late Majority). Kelompok petani ini biasanya berpendapatan lebih dari cukup bila dibandingkan dengan pendapatan rata–rata petani yang tinggal disekitarnya. Partisipasi kelompok sebagian besar terbatas pada organisasi lokal dimana ciri organisasi seperti ini hanya cenderung menarik anggota–anggotanya dari lokalitas terdekat saja.
  5. Si kolot (Laggards). Mereka yang tergolong dalam kelompok ini adalah mereka yang pada umumnya termasuk tradisional sehingga enggan untuk melakukan adopsi inovasi. Masyarakat yang mepunyai ciri demikian memang seringkali sulit untuk mengubah dirinya dengan hal – hal yang baru. Seringkali mereka tergolong sudah lanjut usia, status sosialnya rendah dan usahataninya sangat subsistem.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Adopsi Inovasi

Adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi proses adopsi inovasi adalah sebagai berikut :

  1. Saluran komunikasi. Peranan saluran komunikasi ini sangat penting. Inovasi yang disampaikan secara individual akan berjalan lebih cepat bila dibandingkan dengan inovasi tersebut dilakukan secara massal. Walaupun pendapat demikian tidak selalu benar, dikarenakan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kecepatan proses adopsi inovasi. Para peneliti membagi saluran komunikasi menjadi : (1) saluran interpersonal (tatap muka antara petani dengan penyuluh atau lebih dikenal anjangsana) dan media massa, dan (2) saluran lokal dan saluran kosmopolit.
  2. Ciri sistem sosial. Faktor selanjutnya adalah ciri dari sistem sosial yang ada di masyarakat dimana calon adopter itu bertempat tinggal. Masyarakat yang lebih modern akan relatif lebih cepat melakukan adopsi inovasi bila dibandingkan dengan masyarakat yang tradisional.
  3. Kegiatan promosi penyuluh pertanian. Semakin giat penyuluh pertanian melaksanakan promosi tentang adopsi inovasi, maka semakin cepat pula adopsi inovasi yang dilakukan oleh masyarakat tani.
  4. Sumber informasi. Sumber informasi dapat berasal dari media massa maupun elektronik, sesama petani, petugas penyuluh pertanian, pedagang, pejabat desa atau dari informan yang lain.
  5. Faktor – faktor geografis. Wilayah yang memiliki kondisi alam yang sulit akan berpengaruh juga terhadap kecepatan adopsi inovasi. Misalnya wilayah yang topografinya curam dan berbukit–bukit akan lebih sulit dibandingkan dengan wilayah yang datar. Lokasi juga berpengaruh terhadap kecepatan adopsi inovasi. Daerah yang memiliki jarak yang jauh dengan sumber informasi atau daerah yang terisolir akan cukup sulit dalam proses adopsi inovasi.

Penutup

Adopsi inovasi memerlukan proses komunikasi yang terus menerus dari penyuluh kepada adopternya, untuk manganalisis, menjelaskan, mendidik dan membantu masyarakat /petani agar tahu, mau dan mampu menerapkan teknologi terpilih. Adopsi inovasi merupakan proses pengambilan keputusan bagi adopter (petani) yang berkelanjutan dan tidak kenal berhenti untuk menerima, memahami, menghayati dan menerapkan, serta siap untuk melakukan perubahan – perubahan dalam praktek berusahatani dengan memanfaatkan teknologi terpilih yang disuluhkan.

Dalam proses adopsi inovasi, seyogyanya penyuluh sebagai penerangan, artinya seorang penyuluh merupakan orang yang memberikan informasi/pencerahan kepada masyarakat/petani sehingga masyarakat yang tidak tahu bisa menjadi tahu terhadap pesan yang disampaikan. Selain itu, baik penyuluh atau pihak terkait harus dapat memilih inovasi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan adopternya (petani).

SUMBER PUSTAKA

Anonim. Tanpa Tahun. Pengertian Adopsi Inovasi (BAB II. Tinjauan Teoritik. (Online). www.google.com/S_B0351_056866_Chapter2  Perpustakaan. Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses 30 Januari 2018

Aatmandai. 25 Oktober 2010 Sistem Adopsi Inovasi. (Online). aatmandai.blogspot.com/2010/10/sistem-adopsi-inovasi.html. Diakses 30 Januari 2018

Bulu,Yohanes Geli. 16 Januari 2010. Sikap dan Perilaku Petani terhadap Adopsi Teknologi Pertanian. (Online). magammar.blogspot.com/2010/ol/ . Diakses 30 Januari 2018

Turindra, Azis. 18 November 2009. Pengertian Adopsi dan Inovasi. (Online). turindra.atp.blogspot.com/2009/11/. Diakses 30 Januari 2018

 

 

Related Articles

Back to top button